Sekolah Sang Preneur 1

Posted by peladminatihanpensiun In: Tak Berkategori No comments

Bagian 0 – Siapa itu Preneur? Apa itu “Masa Sekolah”

Secara harfiah, preneur adalah bahasa Perancis yang artinya Mengambil.  Kalau ditambah Entre menjadi Entrepreneur, menjadi bahasa Ingrris yang artinya Pengusaha. Definisi  entrepreneur adalah pebisnis yang mengambil risiko lebih, dibandingkan orang lain.   Dari definisi ini hanya pebisnis yang bisa jadi Entrepeneur.  Untuk pegawai yang berani mengambil risiko lebih disebut Intrapreneur.

Kami sendiri mendefinisikan dan menganggap entrepreneur dan intrapreneur banyak sekali kesamaannya.  Jadi tulisan ini lebih senang menggunakan “Preneur” sebagai orang yang berani mengambil risiko lebih, tidak melihat profesinya sebagai pegawai, sebagai pebisnis, maupun sebagai profesional (dokter, guru, lawyer, artis, atlit dll).

“Semua profesi bisa menjadi Sang Preneur.”

 

Semua profesi bisa memilih “jalan rata” dengan risiko rendah namun tidak bisa pergi jauh, bisa juga mengambil “jalan terjal”, dengan risiko lebih besar namun melangkah jauh kemana saja.

Pegawai kantoran misalnya, bisa menjadi Sang Preneur jika:

  • Berani mengambil inisiatif yang berisiko, karena perusahaan membutuhkan.
  • Senang jika dipercaya mendapat “pekerjaan tambahan” yang sebenarnya peluang bagi kemajuan dirinya.  Pekerjaan tambahan juga
  • Bekerja tidak dibatasi waktu kerja normal. Bagi dirinya tanggung jawab menyelesaikan tugas harus dijaga sekuat tenaga.  Tugas yang tidak tuntas hanya akan membuat atasan (sebagai kliennya) kecewa, dan pada akhirnya mengurangi reputasi dirinya.   Seperti pebisinis yang sadar sepenuhnya kepuasan klien adalah bahan baku utama, nafkah bagi perusahaan.
  • Fokus pada kepuasan konsumen, menjaga reputasi dan kepercayaan itu amat penting.
  • Tidak suka mengeluh dan terlalu mengandalkan dukungan perusahaan. Pegawai yang menjadi Preneur menyelesaikan masalah dengan tenang dan mendayagunakan “sesuatu yang ada” serta mengoptimalkannya.   Seperti pebisnis yang tidak mungkin meminta dukungan perusahaan, karena dirinyalah sang perusahaan.
  • Terus-terusan belajar. Karena dirinya menyadari pengetahuan yang dimilikinya bisa basi dan tidak berguna lagi. Seperti pebisnis yang mengetahui keunggulan perusahaannya bisa kapan saja tergerus waktu, tergerus terknologi dan tergerus perubahan.  Preneur harus sering menabung ilmu-ilmu baru, sehingga ketika dibutuhkan tinggal menggunakannya.
  • Mau hidup sederhana. Uang yang ada tidak akan dihambur-hamburkan untuk konsumsi dan gengsi.  Dipakai sesuai kebutuhan saja, selebihnya ditabung untuk menghadapi “masa sekolah”, untuk investasi yang menghasilkan keuntungan dan untuk beramal agar hati damai.  Pebisnis-pebisnis besar sudah membuktikan hal ini, tidak semua memang,  dan tingkat kesederhanaannya bisa berbeda-beda.

Jika Anda bertanya, “Lha susah sekali menjadi pegawai Preneur?”  Jawaban saya adalah: “ yang memang susah”, karena itu hanya sedikit pegawai yang mampu menjadi Prenuer”.

 

Terus apa itu Masa Sekolah Sang Prenenur?

Dari pengalaman kami, hampir seluruh Preneur pasti harus atau pernah “bersekolah”.  Tentu sekolah yang kami maksud bukan sekolah formal seperti S1-S2-S3 ataupun sekolah informal seperti Kursus dan seminar.

Sekolah yang kami maksud terkait dengan esensi sebuah sekolah yakni “periode inventasi yang belum/tidak menghasilkan untung, namun menghasilkan pengetahuan dan pengalaman”.   Sang preneur perlu menyiapkan uang sekolah yang memadai, jika ingin lulus melewati masa sekolah ini.  Tentu yang menyenangkan jika uang sekolahnya dibiayai oleh beasiswa, alias ada investor yang membiayai.  Ingat investor ya bukan kreditor!

Kapan sang prenenur mengalami masa sekolah?

  1. Saat memulai bisnis.  Saat dimana usaha belum dikenal, proses belum stabil, produk masih dikembangkan.  Bahkan saat sang Preneur sendiri belum yakin bahwa usaha yang dijalankannya akan terus bertahan.   Dalam teori bisnis periode ini disebut sebagai introduction phase.   Masanya bisa sebentar, 1 bulan, 2 bulan, namun juga bisa cukup panjang, 1 tahun, 2 tahun.  Karena masih “sekolah”, periode ini belum menghasilkan profit.  Periode ini yang sering lupa disampaikan oleh motivator bisnis yang tidak pernah berbisnis ril.  Jangan lupa banyak sekali Preneur bangkrut di periode ini.  Mereka nggak sanggup menyelesaikan “sekolahnya” ini.
  2. Saat pesaing baru muncul.  Saat ketenangan bisnis kita “diganggu”, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.  Pesaing bisa saja sengaja mengganggu produk kita atau merek kita.  Namun bisa saja mengganggu secara tidak langsung karena memunculkan suplai baru  di pasar.  Karena ini periode “sekolah” sang Preneur sebagai student, harus banyak belajar
  3. Saat perusahaan terpuruk, dengan alasan apapun.   Bisa karena harga-harga naik, bisa karena tertipu, bisa karena mismanajemen, atau bisa karena apapun.   Disaat ini, mindset sang Preneur harus meyakini, bahwa ini adalah masa sekolah yang bisa menjadi positif bagi dirinya.

 

Jika dibahas lebih dalam, sebenarnya idiom “sekolah sang preneur” ini mempunyai banyak implikasi.  Diantaranya adalah:

  1. Jika ingin memulai bisnis, pastikan sang preneur menyadari bahwa di awal bisnis itu ibarat sedang bersekolah.  Perlu keluar uang, namun tidak langsung memberikan keuntungan.  Kalau lulus, baru akan menikmati hasil dari sekolahnya ini.   Karena masih “belajar” maka kami menyarankan agar memulai bisnis dengan ukuran yang sekecil-kecilnya.  Jangan berharap untung besar dulu.  Karena risiko besar, maka usahanya jangan ukuran besar dahulu.
  2. Di masa sekolah, sang preneur sejatinya adalah menjadi siswa yang wajib belajar dengan cepat agar bisa lulus ujian.  Buka fikiran terhadap hal-hal baru, teknologi baru, permintaan pasar baru dan lain-lain.  Jika sang preneur “keras kepala” dan “merasa benar” maka realita akan memberinya pelajaran yang keras!
  3. Semua sekolah pasti ada titik ujungnya.  Jika sang preneur mampu bertahan, dia akan lulus dari sekolah, dan akan memiliki pengetahuan-pengetahuan maupun ketrampilan-ketrampilan baru.  Jadi sang Preneur harus menatap krisis sebagai sesuatu yang positif.  Selain karena setiap krisis memunculkan peluang, juga karena krisis esensinya memaksa sang preneur untuk bersekolah.

So, ingin  menjadi preneur?   Harus siap “bersekolah”!

 

 

 

0 Likes

Comments: 0

There are not comments on this post yet. Be the first one!

Leave a comment